Dampak Positif energi Nuklir
Nuklir Alternatif Menjawab Krisis Energi
Harga minyak mentah di pasar internasional yang bersifat fluktuatif agak¬nya membuat penghuni dunia tersentak. Wajar, karena dari waktu ke waktu, kebutuhan akan kuantitas minyak seba¬gai sumber energi selalu meningkat. Sekitar 50% kebutuhan energi du¬nia bersumber dari bahan bakar mi¬nyak. Sisanya, disuplai dari. batu bara dan gas alam, Sementara energi surya, angin dan sebagainya, hanya mem¬berikan kontribusi yang sedikit.
Harga minyak mentah di pasar internasional yang bersifat fluktuatif agak¬nya membuat penghuni dunia tersentak. Wajar, karena dari waktu ke waktu, kebutuhan akan kuantitas minyak seba¬gai sumber energi selalu meningkat. Sekitar 50% kebutuhan energi du¬nia bersumber dari bahan bakar mi¬nyak. Sisanya, disuplai dari. batu bara dan gas alam, Sementara energi surya, angin dan sebagainya, hanya mem¬berikan kontribusi yang sedikit.
Beberapa tahun mendatang, energi tak terbarukan itu pun dipastikan akan
habis. Mungkin, penghematan dapat menjadi alternatif agar stok minyak
dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang. Namun, sampai kapan
harus terus berhemat. Apalagi, seiring dengan me¬ningkatnya teknologi
dan industriali¬sasi, sangat mustahil, jika seruan ber¬hemat BBM dapat
dilaksanakan se-maksimal mungkin.
Justru sebaliknya, kandungan mi¬nyak di perut bumi akan terus dieks¬ploitasi guna menjawab kebutuhan energi industri dan rumah tangga. Karena itu, sudah saatnya perlu ada implementasi kebijakan yang revolu¬sioner ke arah inovasi energi nonmigas.
Justru sebaliknya, kandungan mi¬nyak di perut bumi akan terus dieks¬ploitasi guna menjawab kebutuhan energi industri dan rumah tangga. Karena itu, sudah saatnya perlu ada implementasi kebijakan yang revolu¬sioner ke arah inovasi energi nonmigas.
Dalam konteks ini, energi nuklir menjadi alternatif yang harus
diperhi¬tungkan. Laporan World Nuclear Association 2005 berjudul The New
Economics of Nuclear Power, menyimpulkan bahwa nuklir adalah alternatif
terbaik men¬jawab persoalan semakin langkanya minyak sebagai sumber
energi.
Biayanya jauh lebih rendah diban¬dingkan dengan energi berbahan ba¬kar
lain. Di Spanyol, biaya produksi listrik yang dihasilkan pembangkit
nu¬klir turun hingga 29% selama 1995-2001. Ongkos bahan bakar energi
listrik nuklir juga lebih rendah dibandingkan dengan biaya listrik
berbahan batu bara, minyak, dan gas yang kadang menyebabkan masalah
logistik, serta pencemaran.
Sementara nuklir, dengan bahan baku uranium dipastikan akan lebih mudah
diangkut dan murah biaya. Volume yang diperlukan lebih kecil dari pada
batu bara dan minyak. Satu kilogram uranium alam dapat meng¬hasilkan
20.000 kali lebih banyak energi ketimbang jumlah batu bara yang sama.
Dengan nuklir, maka di¬perkirakan peran batu bara dapat ber¬kurang menjadi 91 juta ton pada 2025, dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20%.
Dengan nuklir, maka di¬perkirakan peran batu bara dapat ber¬kurang menjadi 91 juta ton pada 2025, dengan pangsa listrik nuklir yang memadai yaitu 20%.
Lebih bersaingBerdasarkan perhitungan Asosiasi Nuklir Dunia pada Januari
2006, daya nuklir jauh lebih bersaing dibandingkan dengan pembangkit
listrik jenis lain. Biaya energi nuklir hanya sekitar sepersepuluh biaya
batu bara. Biaya energi nuklir rata-rata 0,4 sen euro per kWh, sama
seperti tenaga air. Batu bara lebih 4 sen euro, gas berjangka 2,3 sen
euro dan hanya tenaga angin yang lebih baik daripada nuklir. Biaya
nuklir pun akan terus menurun.
Daya tarik energi nuklir juga terletak pada_murahnya ongkos bahan bakar
dibandingkan dengan pusat listrik batu bara, minyak dan gas. Biaya yang
dikeluarkan menyangkut pengelolaan bahan bakar bekas pakai,
dekomisioning dan penyimpanan lim¬bah akhir. Biaya dekomisioning
diper-kirakan sebesar 9%-15% dari biaya modal awal pusat listrik nuklir.
Biaya tersebut hanya beberapa per¬sen tambahan atas biaya investasi.
Bahkan, lebih kecil lagi dari biaya pem¬bangkit listrik. Dalam laporan
bersama Nuclear Energy Agency OECD dengan Interna-tional Energy Agency
yang disusun selama tujuh tahun, disimpulkan bah¬wa daya saing nuklir
terus bertambah karena pada 1998, terjadi peningkatan faktor kapasitas
listrik nuklir dan naik¬nya harga gas.
Meski demikian, dengan segala ke¬unggulannya, energi nuklir seolah
tenggelam karena banyak masyarakat dunia yang masih phobia terhadap
tra¬gedi meledaknya reaktor Chernobyl Ukraina pada 26 April 1986.
Mohammad Ridwan, Mantan Kepala Badan Pengawas Teknologi Nuklir, dalam presentasinya pada acara diskusi panel tentang Pembangunan PLTN.di Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu, mengatakan tidak perlu tragedi tersebut menjadi penghambat dalam mengimplementasikan energi nuklir.
Mohammad Ridwan, Mantan Kepala Badan Pengawas Teknologi Nuklir, dalam presentasinya pada acara diskusi panel tentang Pembangunan PLTN.di Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu, mengatakan tidak perlu tragedi tersebut menjadi penghambat dalam mengimplementasikan energi nuklir.
Menurut dia, tragedi tersebut terjadi karena desain reaktor Chernobyl
tidak stabil pada daya rendah. Sementara daya reaktor bisa naik cepat
tanpa bisa dikendalikan. Di Indonesia, jarang sekali masyara¬kat yang
tahu kontribusi positif nuklir bagi kesejahteraan manusia. Nuklir
menjadi momok senjata yang mena¬kutkan. Padahal, Indonesia tidak per¬nah
berminat membangun infrastruk¬tur senjata nuklir untuk berperang.
Dampak negatif PLTN
yakni bahaya radiasi yang dapat membunuh makhluk hidup. Namun,
pembangunan PLTN juga memiliki dampak positif bagi masyarakat. Dengan
PLTN secara bertahap pembebasan karbondioksida ke atmosfer, yang menjadi
menyebab pemanasan global, dapat dibatasi. Selain itu dapat pula
dikurangi emisi gas SO2, VHC, dan Nox sehingga membantu mengurangi hujan
asam dan pembatas emisi gas rumah kaca.
komentar:
PLTN memang sangat membantu permasalahan dalam usaha pembangkit listrik.
Namun disisi lain PLTN juga banyak memiliki dampak negatif, kita
sebagai makhluk hidup yang mengerti akan hal itu seharusnya dapat
meminimalisir hal itu agar dampak negatif itu bisa sedikit berkurang
atau bahkan tidak terjadi. Dari sisi dampaknya terhadap lingkungan, energi panasbumi merupakan sumber
energi alternatif yang relatif bersih dibandingkan sumber energi fosil seperti
minyak bumi, batu bara dan gas alam. Secara umum, pembangkit listrik tenaga
panasbumi (PLTPB) hanya mengemisikan CO2 sebagai salah satu gas
rumah kaca dalam jumlah yang sangat kecil. Studi yang dilakukan IAEA pada tahun
1989 menunjukkan bahwa PLTPB hanya mengemisikan 57 gram CO2untuk
setiap kWh listrik yang dihasilkan, sedangkan studi pada tahun 1992, PLTPB
hanya mengemisikan 42 gram CO2untuk setiap kWh. Sementara untuk
pembangkit listrik tenaga fosil mengemisikan 460 – 1290 gram CO2 untuk
setiap kWh listrik (Trevor, 2005).

0 komentar:
Posting Komentar