Rabu, 29 Oktober 2014

TUGAS DAN TULISAN PERTEMUAN 2

Pengorganisasian Struktur Manajemen

A.    Definisi Pengorganisasian
Pengorganisasian merupakan proses penyusunan anggota dalam bentuk struktur organisasi untuk mecapai tujuan organisasi  dengan sumber daya yang di miliki dan lingkungan  yang melingkupinya baik internal maupun eksternal.

B.     Pengorganisasian Sebagai Fungsi Manajemen

Struktur Formal
Suatu organisasi yang memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang jelas, serta tujuan yang ditetapkan secara jelas. Atau organisasi yang memiliki struktur (bagan yang menggambarkan hubungan-hubungan kerja, kekuasaan, wewenang dan tanggung jawab antara pejabat dalam suatu organisasi). Atau organisasi yang dengan sengaja direncanakan dan strukturnya secara jelas disusun. Organisasi formal harus memiliki tujuan atau sasaran.

Struktur Informal:
Kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas serta tujuan bersama yang tidak disadari.


Actuating Dalam Manajemen

A. Definisi Actuating
Pelaksanaan atau tindakan adalah suatu fungsi manajemen untuk mengerakan orang-orang agar berkerja sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

B. Pentingnya Actuating
Banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa fungsi manajemen pelaksana merupakan fungsi yang paling penting karena berhubungan dengan sumber daya manusia

C. Prinsip Actuating
  • Memperlakukan pegawai dengan sebaik-baiknya
  • Mendorong pertumbuhan dan perkembangan manusia
  • Menanamkan pada manusia keinginan untuk melebihi
  • Menghargai hasil yang baik dan sempurna
  • Mengusahakan adanya keadilan tanpa pilih kasih
  • Memberikan kesempatan yang tepat dan bantuan yang cukup
  • Memberikan dorongan untuk mengembangkan potensi dirinya


 Mengendalikan Fungsi Manajemen

A. Definisi Controlling
Controlling atau pengendalian ialah satu diantara beberapa fungsi manajemen berupa mengadakan penilaian, bila perlu mengadakan koreksi sehingga apa yang dilakukan bawahan dapat diarahkan ke jalan yang benar dengan tujuan yang telah digariskan semula. Bila ditinjau dari proses, maka proses itu adalah proses yang dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan yang telah direncanakan dan dilaksanakan bisa berjalan sesuai target yang diharapkan.

B. Langkah-langkah dalam control
1.  Menetapkan standar dan Metode Mengukur Prestasi Kerja
Standar yang dimaksud adalah criteria yang sederhana untuk prestasi kerja, yakni titik-titik yang terpilih didalam seluruh program perencanaan untuk mengukur prestasi kerja tersebut guna memberikan tanda kepada manajer tentang perkembangan yang terjadi dalam perusahaan itu tanpa perlu mengawasi setiap langkah untuk proses pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan.

2.  Melakukan Pengukuran Prestasi Kerja
Pengukuran prestasi kerja idealnya dilaksanakan atas dasar pandangan kedepan, sehingga penyimpangan-pennyimpangan yang mungkin terjadi ari standar dapat diketahui lebih dahulu.

3.  Menganalisis Apakah Prestasi Kerja Sesuai dengan Standar
Yaitu dengan membandingkan hasil pengukuran dengan target atau standar yang telah ditetapkan. Bila prestasi sesuai dengan standar manajer akan menilai bahwa segala sesuatunya beada dalam kendali.

4.  Mengambil Tindakan Korektif
Proses pengawasan tidak lengkap bila tidak diambil tindakan untuk membetulkan penyimpangan yang terjadi. Apabila prestasi kerja diukur dalam standar, maka pembetulan penyimpangan yang terjadi dapat dipercepat, karena manajer sudah mengetahui dengan tepat, terhadap bagian mana dari pelaksanaan tugas oleh individu atau kelompok kerja, tindakan koreksi itu harus dikenakan.

C.     Kontrol sebagai fungsi manajemen
  • Meningkatkan akuntabilitas
  • Merangsang kepatuhan pada kebijakan, rencana, prosedur, dan ketentuan yang berlaku
  • Melindungi aset organisasi
  • Pencapaian kegiatan yang ekonomis dan efisien


Motivasi

A. Definisi Motivasi
Motivasi adalah  suatu proses dimana kebutuhan-kebutuhan mendorong seseorang untuk melakukan serangkaiam kegiatan yang mengarah ke tercapainya tujuan tertentu.

B. Definisi Motivasi Kerja
Motivasi kerja adalah proses mempengaruhi atau mendorong dari luar terhadap seseorang atau kelompok kerja agar mereka mau melaksanakan sesuatu yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.

C. Teori-teori Motivasi 

Teori yang Bersifat Umum
1) Teori Sifat
     Motivasi kerja yang terjadi karena sifat bawaan.
2) Teori Pengalaman
   Motivasi dibentuk oleh lingkungan sekitar, sehingga memotivasi orang dalam berkerja tergantung dari lingkungan yang membentuknya.
3) Teori Proses
    Motivasi terasimiliasi dari kondisi motivasi terasimiliasi dari kondisi-kondisi sekitar, dima- na perilaku termotivasi oleh kondisi sekitar.
4) Teori Isi Motivasi
   Berfokus faktor-faktor atau kebutuhan dalam diri seseorang untuk menimbulkan se- mangat, mengarahkan, mempertahankan, dan menghentikan perilaku.

Teori yang Bersifat Khusus
1) Teori Kebutuhan
    Dari motivasi kerja berdasakan pendapat orang melakukan usaha dalam perilaku yang memungkinkannya untuk mengisi kekurangan yang ada dalam hidupnya.
2) Teori Kognitif
   Dari motivasi kerja tidak menyangkal bahwa orang memiliki kebutuhan, tetapi konsep pendorong yang implisit dalam teori kebutuhan digantikan oleh elemen kognitif. Dalam proses pengambilan keputusan yang rumit untuk mempertimbangkan altrnatif, biaya, manfaat dan kemungkinan pencapaian yang diingkan menjadi hal yang penting.


Kepuasan Kerja

A. Definisi Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan penilaian atau cerminan dari perasaan pekerja terhadap pekerjaannya. Hal ini tampak dalam sikap positif pekerja terhadap pekerjaannya dan segala sesuatu yang dihadapi lingkungan kerja.

B. Aspek-aspek Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja secara keseluruhan bagi seorang individu adalah jumlah dari kepuasan kerja dari setiap aspek pekerjaan dikalikan dengan derajat pentingnya aspek dari pekerjaan bagi individu. Misalnya untuk seseorang tenaga kerja, satu aspek dari pekerjaanya sangat penting, lebih penting dari aspek-aspek pekerjaan lain, maka untuk tenaga kerja tersebut kemajuan harus dibobot lebih tinggi dari pada penghargaan.

C. Faktor-faktor Penentu Kepuasan Kerja
  • Ciri-ciri intrinsik pekerjaan
  • Gaji penghasilan, imbalan yang dirasakan adil (equitable reward)
  • Penyeliaan
  • Rekan-rakan sejawat yang menunjang
  • Kondisi kerja yang menunjang


Contoh Kasus :

Setelah adanya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) besar-besaran, motivasi pekerja di sebuah perusahaan biasanya cukup rendah. Ini bisa jadi disebabkan karena karyawan mempersepsi adanya ketidakadilan, baik dari sudut pandang Equity Theory maupun Procedural Justice. Ketika perusahaan memecat karyawan yang telah memberikan kontribusi berupa kerja keras dan keahlian, karyawan mempersepsi bahwa ketidakadilan telah terjadi.

Situasi bisa diperburuk melalui prosedur PHK. Seringkali, alasan mengapa PHK dilakukan hanya diberikan melalui memo atau penjelasan singkat dari manajemen level bawah, tanpa adanya pertemuan tatap muka dengan para pembuat keputusan di manajemen level atas, sehingga karyawan tidak memiliki kesempatan untuk bertanya atau memberikan pendapatnya. Dalam situasi seperti ini, karyawan tidak diberikan cukup kesempatan untuk membentuk justifikasi kognitif dalam benak mereka mengenai mengapa PHK itu diperlukan. Hal ini patut disayangkan karena penelitian telah menunjukkan bahwa digunakannya penjelasan yang masuk akal disertai empati cenderung dapat meminimalkan efek negatif dari keadaan yang tidak adil (Greenberg, 1990).

Equity Theory juga menjelaskan bahwa setelah persepsi ketidakadilan terbentuk, karyawan akan mencoba meraih kembali keadilan dengan mengurangi jumlah kontribusi mereka (Adams, dalam Donovan, 2001). Misalnya, karyawan bisa saja mulai datang terlambat ke kantor atau bahkan absen sama sekali, dengan tujuan mengurangi waktu dan kerja keras yang mereka kontribusikan pada perusahaan.

Menurut Withdrawal Progression Model, para pekerja di atas kemungkinan akan memulai reaksi mereka dengan tindakan-tindakan ringan seperti datang terlambat, sebelum beralih ke tindakan yang lebih berat, seperti absen, dan pada akhirnya keluar dari perusahaan (Johns, 2001). Memang belum tentu semua karyawan yang tidak puas akan keluar dari perusahaan, karena masih ada factor-faktor lain yang turut mempengaruhi seperti tingkat pengangguran di lokasi tersebut serta tingkat ketersediaan pekerjaan lain yang dianggap menarik oleh para karyawan tersebut (Hom and Kinicki, 2001). Namun, bahkan dalam situasi di mana karyawan tidak dapat keluar dari perusahaan, mereka akan terus melanjutkan pelanggaran-pelanggaran selama mereka masih merasa tidak puas (Johns, 2001). Ini tentu saja merupakan sesuatu yang sulit diterima oleh perusahaan. Karena itu, beberapa rekomendasi akan diberikan dalam Contoh Kasus ini untuk mengurangi perilaku dan sikap yang tidak diinginkan ini.



Sumber :
Rusdi Ramli dan Adi Warsidi. (2001). Asas-Asas Manajemen. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Anwar Prabu Mangkunegara. (2007). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Sjafri Mangkuprawira. (2004). Manajemen Sumber Daya Strategik. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Feist, Jess & Feist J. Gregory. (2010). Buku 2 Teori Kepribadian Edisi 7. Jakarta: PT. Salemba Humanika
Shalahuddin, A. M. (2009). Kepuasan Kerja. [online]. https://www.scribd.com/doc/17000839/Kepuasan-Kerja.17/10/2014. [29 Oktober 2014]
Wirawan, J. A. (2008). Motivasi Kerja. [online]. http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/area-terapan-mainmenu-30/organisasi-mainmenu-66/motivasi-kerja-mainmenu-67. [29 oktober 2014]

Senin, 13 Oktober 2014

TUGAS DAN TULISAN PERTEMUAN 1

Nama : Rangga P
Kelas  : 3PA06
NPM   : 16512021

                  I.            Manajemen

a)     Pengertian manajemen
            Dalam mengartikan dan mendefinisikan manajemen ada berbagai ragam, ada yang mengartikan dengan ketatlaksanaan, manajeman, manajemen pengurusan dan lain sebagainya. Bila dilihat dari literature-literatur yang ada , pengertian manajemen dapat dilihat dari tiga pengertian :
1.      Manajemen sebagai suatu proses
2.      Manajemen sebagai suatu kolektivitas manusia
3.      Manajemen sebagai ilmu( science) dan sebagai seni (art).

           Manajemen  sebagai suatu proses, melihat bagaimana cara orang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Pengertian manajemen sebagai suatu proses dapat dilihat dari pengertian menurut :

1.      Encyclopedia of the social science, yaitu suatu proses dimana pelaksanaan suatu tujuan tertentu dilaksanakan dan diawasi.

2.      Haiman, manajemen yaitu fungsi untuk mencapai suatu tujua melaluii kegiatan orang lain, mengawasi  usaha-usaha yang dilakukan individu mencapai tujuan.

3.      Georgy R,Terry, yaitu cara penyampaian tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu dengan melalui kegiatan orang lain.

Manajemen suatu kolektivitas yaitu merupakan suatu kumpulan dari orang-orangyang bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kolektivitas atau kumpulan orang-orang inilah yang disebut dengan manajemen, sedang orang yang bertanggung jawab terhadap terlaksanaannya suatu tujuan atau berjalannya aktivitas maanajemen disebut manajer.

Manajemen sebagai suatu ilmu seni, melihat bagaimana aktivitas manajemen dihubungkan dengan perinsip-perinsip dari manajement. Pengertian manajemen sutuu ilmu dan seni dari :

·         Chaster I Bernard dalam bukunya yang berjudul the function of the executive, bahwa manajemen itu yaitu seni dan ilmu, juga Henry Fayol, Alfin Brown Harold, Koonts Cyril O’donnel dan Geroge R Terry.

·         Marry Parker Follet menyatakan bahwa manajemen sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.
Dari defenisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen yaitu koordinasi semua sumber daya melalui proses perencanaan, pengorganisasian,penetapan tenaga kerja, pengarahan dan pengawasan untuk mencaapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.




b)     Jenis-jenis manajemen
Berdasarkan tingkatan dan bidang/fungsi Manajemen di bagi menjadi 2, yaitu:
I.                   Tingkatan/hirarki

a.       Manajemen puncak (top management)
b.      Manajemen menengah (middle level management)
c.       Manajemen tingkat bawah (lower level management)




Penjelasan:
             Manajer tingkat atas bertanggung jawab terhadap perusahaan secara keseluruhan, bertugas menentukan tujuan, strategi dan kebijakan secara umum, kemudian akan diterjemahkan lebih spesifik oleh manajer dibawahnya.  Selanjutnya menentukan kelangsungan hidup organisasi.
Manajer menengah terdiri atas kelompok manajer yang lebih besar.  Tugasnya adalah melaksanakan tujuan, strategi dan kebijakan yang telah ditetapkan oleh manajer puncak serta mengkoordinasikan dan mengarahkan aktivitas manajer tingkat bawah dan juga karyawan operasional. Contoh:  manajer pemasaran, manajer keuangan, dll.
Manajer tingkat bawah mengawasi karyawan secara langsung.  Tugasnya adalah mengawasi dan mengkoordinasikan kegiatan operasional yang dilakukan oleh karyawan.  Contoh: pengawas / supervisor.

II.    Bidang / fungsi

1.      Manajer umum bertanggung jawab mengawasi unit tertentu yang mempunyai beberapa bidang sekaligus. Contoh: divisi

2.      Manajer fungsional bertanggung jawab terhadap satu aktivitas organisasi tertentu. Contoh: manajer pemasaran

Tingkat manajemen dan ketrampilan manajemen
Manajer puncak lebih membutuhkan ketrampilan konseptual
Manajer tengah lebih membutuhkan hubungan manusiawi
Manajer operasional lebih membutuhkan ketrampilan teknik
Tugas-tugas manajer
1.   Yang berkaitan dengan tugas utama, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan pengambilan keputusan.
2.   Fungsi atau tugas ketatausahaan (fungsi penunjang)
a.       Pencatatan
b.      Pengumpulan data
c.       Pengolahan data
d.      Penerimaan, penyimpanan dan pemeliharaan surat
e.       Penerimaan dan pengamanan informasi
f.       Tata hubungan kantor.

Peran Manajer
1.      Antar pribadi (interpersonal)
2.      Informasi
3.      Pengambil keputusan

Kegagalan Manajer
1.      Kurang mampu dalam menjalankan fungsi manajerialnya
2.      Tidak mampu mengkoordinir semua sarana manajemen yang tersedia
4.      Tidak mampu mengelola fungsi penunjang
5.      Tidak mampu menempatkan perannya dalam kedudukannya sebagai manajer


c)      Apa itu psikologi manajemen
Psikoloogi manajemen adalah suatu studi tentangtingkah laku manusia yang terlibatdalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan fugsi – fungsi manajemenuntuk mencapai tujuan yang telah ditetapan sebelumnya.

d)     Tujuan psikologi manajemen
Pada hakekatnya fungsi-fungsi diats dapat dikombinasikan menjadi 10 fungsi, yaitu
a.       Forecasting(ramalan), yaitu kegiatan meramalkann, memproyeksikanterhadap kemugkinan yang akan terjadi bila sesuatu dikerjakan
b.      Planning(perencanaan) yaitu penentuan serangkaian tindakan dan kegiatan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
c.       Organizing(organisasi) yaitu pengelompokan kegiatan untuk mencapai tujuan, termasuk dalam hal ini penetapa susunan organisasi, tugas dan fungsinya.
d.      Staffing atau assembling resources(penyusunan personalia) yaitu penyusunan personalia sejak dari penarikn tenaga kerja baru, latihan dan pengembangan sampai dengan usaha agar setiap petugas member daya guna maksimal pada organisasi.
e.       Directing atau commanding( pengarahan atau komando) yaitu usaha member bimbingan saran-saran dan perintah dalam pelaksanaan tugas masing-masing bawahan(delegasi wewenang ) untuk dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai dengantujuan yang telahh ditetapkan.
f.       Leading yaitu pekerjaan manajer untuk meminta orang lain agar bertindak sesuai dengan tjuan yang telah ditetapkan.
g.      Coordinating(kordinasi)yaitu menyelaraskan tugas atau pekerjaan agar tidak terjadi kekacauan dan saling lempar tanggung jawab dengan jalan menghubungkan, menyatu padukan dan menyelaraskan pekerjaan bawahan.
h.      Motivating( motivasi) yaitu pemberian semangat, inspirasi  dan dorongan kepada bawahan agar engerjakan kegiatan yang telah ditetapkan secara sukarela.
i.        Controlling(pengawasan) yaitu penemuan dan penerapan cara dan peralatan untuk menjamin bahwa rencana telak dilaksanakan sesuai dengan tujuan.
j.        Reporting(pelaporan) yaitu penysmpsisn hasil kegiatan baik secara tertlis maupun lisan.

                II.            Kepemimpinan

a)      Apa itu kepemimpinan

Setelah  perencanaan dibuat dan struktur organisasi dibentuk, maka langkah selanjutnya adalah pengisian jabatan dan organisasi, dikalangan para ahli manajemen ada bermacam-macam penddapat tentang kepemimpinan, ada yang berpendapat kepemimpinan adalah fungsi leadership, fungsi motivating atau fungsi modeling.

Menurut Stoner kepemimpinan adalah sebagai proses mengarahkan dan mempengaruhi kegiatan yang berhubungan dengan tugas. Ada  tiga implikasi penting, pertama, kepimpinan melibatkan orang lain( bawahan atau pengikut), kwalitas seorang pemimpin ditentukan oleh bawahan dalam menerima pengarahan dari pemimpin.

Kedua, kepimpinan merupakan pembagian kekuasaan yang tidak seimbang diantara para pemimpin dan anggota kelompok. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan beberapa dari kegiatan anggota kelompok dan sebaiknya bahwa anggota kelompok atau bawahannya  secara tidak langsung mengarahkan kegiatan pemimpin. Ketiga kepimpinan disamping dapat mempengaruhi bawahan juga mempunyai pengaruh. Dengan kata lain seorang pemimpin tidakdapat mengatakan kepada bawahan apa yang harus dikerjakan tapi juga mempengaruhi bagaimana bawahan melaksanakan perintah pemimpin.











b)     Teori kepemimpinan

A . Teori X dan teori Y dari McGregor

Dauglas McGregor mengemukakan strategi kepemimpinan efektif dengan menggunakan konsep manajemen partisipasi. Konsep manajemen partisipasi. Konsep ini terkenal karena menggunakan asumsi-asumsi sifat dasar manusia.  Pemimpin yang menyukai teori X cendrung meyukai bergaya kepemimpinan otoriter, dan sebaiknya  eseorang pemimpin yang menyukai teori Y  lebih cendrung menyukai gaya kepimpinan demokratik.

Asumsi teori X :

1.      Rata –rata kodrat manusia malas atau tidak menyukai pekerjaan dan akan menghindarinya bila mungkin.
2.      Rata – rata kodrat manusia lebih menyukai diarahkan, menginginkan jaminan hidup diatas segalanya, ambisi relative kecil, ingin menghindari tanggng jawab.
3.      Karakteristik manusia dalam menjalankan tugas untuk mencapai organisasi cendrung dipaksa, diawasi, diarahkan atau diancam dengan hukuman.
          Asumsi teori Y :
1.      Rata –rata kodrat manusia dalam kondisi layak, belajar tidak hanya untuk menerima tapi mencari tanggung jawab.
2.      Penghargaan yang berhubungan dengan prestasi merupakan tujuan.
3.      Potensi intelektual manusia dalam kondisi kehidupan industry digunakan hanya sebagian.
4.      Penggunaan phisik dan mental merupakan kodrat manusia.
5.      Pengarahan dalam usaha pencapaian tujuan organisasi tidak hanya dengan cara mengawasi dan mengancam dalam bentuk hukuman. Orang akan melakukan pengendalian diri dan pengarahan diri untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
6.      Punya kapasitas untuk melakukan imajinasi, kecerdikan dan kreativitas dalam penyelesaian massalah-masalah organisasi yang tersebar secara luas pada seluruh karyawan.







B.  Teori contingency ( contingency model of leadership effectiveness) fred fedler.

           Teori ini mengatakan  bahwa efektivitas organisasi tergantung pada interaksi antara kepribadian pemimpin dan situasi. Situasi di klasifikasi dengan dua karakteristik yaitu :
1.      Derajat situasi dimana pemimpin menguasai, mengendalikan dan mempengaruhi situasi.
2.      Derajat situasi yang menghadapakan manajer dengan ketidakpastian.


C.  Teori siklus hidup kepimpinan .
          
          Pendekatan   kontigen ini dikemukakan oleh paul hersey dan Kenneth Blanchard. Mereka berpendapat bahwa pemimpin yang paling efektif bervariasi menurut’’ kematangan’’ bawahan. Kematangan disin diarttikan sebagai keinginan akan pencapaian, kesediaan menerima tanggung jawab, dan kemampuan serta pengalaman, bukan menurut usia atau stabilitas emosi.
    
Hersey dan Blanchard berpendapat bahwa hubungan antara manajer dengan bwahan ada empat tahap, yaitu :
1.      Tahap pertama ketika bawahanbaru pertama kali masuk organisasi, orientasi tugas yang tinggi adalah sangat tepat, juga perlu diperkenalkan aturan dan prosedur organisasi.
2.      Tahap kedua mawih berorientasi pada tugas, tetapi kepercayaan kepada bawahan mulai ditingkatkan dan menuju pada manajemen yang berorientasi pada karyawan.
3.      Tahap ketiga kemampuan dan motivasi prestasi sudah mulai keliahtan dan manajer memberikan tanggung jawab yang lebih besar sehingga tidak lagi memerlukan hubungan direktif dengan manajer mereka. 

             III.            Perencanaan

a)       pengertian perencanaan
Menurut  newan  pof action erencanaan ( planning) is deciding in advance what is to be done .

1.                     Sedang menurut A.Allen planning is the determination  of a cource to achive a desired result.
2.                     Pada dasarnya yang dimagsud dengan perencanaan yaitu member jawaban atas pertanyaan – pertanyaan apa(what), siapa(who) , kapan ( when), dimana( where), mengapa(why)dan bagaimana (how). Jadi perencanaan yaitu fungsi seorang manajer yang berhubungan dengan pemilihan dari sekumpulan kegiatan – kegiatan dan pemutusan tujuan kebijaksanaan serta program yang dilakukan.
3.                     Kebutuhan akan perencanaan semakain hari semakin meningkat, dimana peningkatan tersebut punya akibat potensial terbesar terhadap sukses dan gagalnya manajemen.





b)     Manfaat perencanaan

1.         Standar pelaksanaan dan pengawasan.
2.         Pemilihan berbagai alternative terbaik.
3.         Penyusunan skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan.
4.         Menghemat pemanfaatan sumber daya organisasi.
5.         Membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan.
6.         Alat memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait, dan,.
7.         Alat meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti.
8.         Mengarah pada tindakan yang bertujuan.
9.         Menghindari kesalahan atau risiko.
10.     Memungkinkan pendelegasian tugas (kekuasaan).
11.     Memungkinkan koordinasi.
12.     Metode yang digunakan bisa lebih baik.
13.     Bisa berhemat atau ekonomis dana.
14.     Bisa menghemat tenaga manajemen.
15.     Sebagai dasar untuk pengendalian.

                               

c)         Jenis perencanaan organisasi
Melihat tingkat hirarkis, ada tiga jenis perencanaan: perencanaan strategis, taktis dan operasional.
1.                      Perencanaan Strategis
Perencanaan strategis dianggap oleh organisasi secara keseluruhan dan dihasilkan oleh tingkat hirarki yang lebih tinggi dari sebuah organisasi. Berkaitan dengan tujuan jangka panjang dan strategi dan tindakan untuk mencapainya.

Perencanaan ini merupakan proses dimana eksekutif / top manajer meramal arah jangka panjang dari suatu entitas dengan menetapkan target spesifik pada kinerja, dengan mempertimbangkan kondisi internal dan eksternal untuk melakukan tindakan perencanaan yang dipilih.

Hal ini biasanya dilakukan dalam organisasi pada tingkat manajerial, atau tingkat tertinggi perintah, yang dilakukan dengan cara taktik dan prosedur yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu atau diberikan perencanaan jangka panjang lebih dari 5 tahun.

Perencanaan strategis juga merupakan suatu hal untuk merencanakan strategi dalam segala hal, atau dalam kehidupan sehari-hari setiap orang.

2.                      Perencanaan Taktis / Taktik
Pada tingkat kedua dari perencanaan, taktis, kinerja berada dalam setiap area fungsional bisnis, termasuk sumber daya tertentu. Perkembangannya terjadi oleh tingkat organisasi menengah, bertujuan untuk efisiensi penggunaan sumber daya yang tersedia untuk jangka menengah proyeksi. Dalam perusahaan besar dengan mudah mengidentifikasi tingkat perencanaan, yang diberikan oleh setiap kepala bagian.

Bagian taktis merupakan proses yang berkelanjutan, yang bertujuan dalam waktu dekat, merampingkan pengambilan keputusan dan menentukan tindakan. Bagian Ini dilakukan secara sistemik karena merupakan totalitas yang dibentuk oleh sistem dan subsistem, seperti yang terlihat dari sudut pandang sistemik. Apakah iteratif, dan proyek mana yang harus fleksibel dan menerima penyesuaian dan koreksi. Teknik ini memungkinkan pengukuran siklus dan evaluasi sebagai dijalankan yang secara dinamis dan interaktif dilakukan dengan orang lain, dan merupakan teknik yang mengkoordinasikan berbagai kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan dari efisiensi.

3.                      Perencanaan Operasional
Ketidakpastian yang disebabkan oleh tekanan dan pengaruh lingkungan harus berasimilasi pada pertengahan atau taktik yang harus mengkonversi dan menafsirkan keputusan strategis, tingkat tertinggi, ke dalam rencana konkrit di tengah dan membuat rencana yang akan dilakukan dan, pada gilirannya, dibagi lagi menjadi rencana operasional dan rincian yang akan dijalankan pada tingkat operasional.

Karena jadwal pada tingkat operasional sesuai dengan set bagian homogen dari perencanaan taktis, yaitu, mengidentifikasi prosedur spesifik dan proses yang diperlukan di tingkat bawah organisasi, menyajikan rencana aksi atau rencana operasional. Hal ini dihasilkan oleh tingkat organisasi yang lebih rendah, dengan fokus pada kegiatan rutin perusahaan, oleh karena itu, rencana dikembangkan untuk waktu yang singkat.

Perencanaan Operasional ini dilakukan pada karyawan di tingkat terendah dari organisasi. Membuat perencanaan kecil sebuah organisasi dan merinci bagaimana tujuan akan dicapai. Bahkan, semua titik dasar perencanaan terjadi di tingkat operasional, yang sangat mempengaruhi dan menentukan, bersama dengan, hasil taktik.

Termasuk tugas-tugas operasional dan skema operasi yang benar dan efisien dalam menjalani sistem pendekatan reduksionis proses khas ditutup. Hal ini dilakukan berdasarkan proses diprogram dan teknik komputasi. Ini mengubah ide menjadi kenyataan, atau mengeksekusi tujuan dari suatu tindakan melalui berbagai rute, jangka pendek pekerjaan umumnya kurang dari 1 tahun.

4.                      Perencanaan Normatif
Mengacu pada penciptaan standar, kebijakan serta peraturan yang ditetapkan untuk operasi organisasi. Hal ini bergantung pada pembentukan standar, metodologi dan metode untuk berfungsinya kegiatan yang direncanakan.

Standar-standar tentang pendirian aturan dan / atau undang-undang dan / atau kebijakan dalam setiap kelompok atau organisasi, terutama untuk menjaga pengendalian, pemantauan dan pengembangan perencanaan dan pengembangan standar dan kebijakan. Perencanaan berhubungan erat dengan desain struktur organisasi. Ini berlaku di daerah yang sangat spesifik, yang umumnya adalah mereka yang mengawasi dan menentukan aspek pada tingkat lainnya tidak dapat dipisahkan.

Contoh kasus dalam organisasi

a.       Dalam sebuah perusahaan, mengalami perdebatan karena perbedaan pendapat antara karyawan dengan karyawan lain,mereka mencoba memberikan argumentasi mereka ,atas produk yang akan di jual oleh perusahaan. Penyelesaiaan : Manajer harus memberikan jalan tengah yaitu dengan menyatukan argumentasi mereka dengan menjadikan suatu analisis yang baik dan dapat di terima oleh karyawan-karyawannya.

b.      Dalam sebuah perusahan terdapat dari salah satu karyawan mengalami stress ketika melakukan pekerjaan karena mendapat  permasalahan dari rumah tangganya, sehingga pekerjan karyawan tersebut kurang professional dan tidak seperti biasanya. Penyelesaian dalam kasus ini diberikan kepada staf HRD dari perusahaan tersebut denga cara memberikan pengarahan,meluruskan, motivasi yang baik dan melakukan terapi kedua pasangan tersebut agar menjadi lebih baik.

c.       Terjadi kasus konflik yang terjadi pada karyawan akibat permasalahn gaji, si A memiliki gaji yang lebih besar dari si B,  padahal pekerjan yang sama tetapi si A mendapatkan pendapatan lebih besar. Terjadi lah konflik ke2 kryawan tersebut. Seharusnya ini disalahkan terhadap HRDnya kenpa bisa pekerjaan yang sama tetapi memiliki gaji yang berbeda. Dalam kasus ini pun dapat diselesaikan oleh kepala perusahan  ni, sehingga agar kasus ini tidak membuat kerugian terhadap karyawan maupun HRD tersebut dengan memberikan pengarahan dan bekerja sebaik mungkin.



Sumber : diterbit oleh gunadarma oleh mohammad abdul mukhyi, mei 1995