Komunikasi dalam manajemen
A. Definisi Komunikasi
Kata atau istilah
komunikasi ( dari bahasa inggris “communication” ), secara epistemologis atau
menurut asal katanya adalah dari bahasa latin communicatus, dan perkataan ini
bersumber pada kata communis. Kata communis memiliki makna “berbagi” atau
“menjadi milik bersama” yaitu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau
kesamaan makna. Komunikasi secara terminilogis merujuk pada adanya proses
penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi, yang
terlibat dalam komunikasi ini adalah manusia.
Proses dimana orang
yang bekerja dalam organisasi saling mentransmisikan informasi dan
menginterpretasikan artinya. Yang penting komunikasi dalam organisasi
diperolehnya komunikasi yang efisien dan efektif. Komunikasi yang efektif
terjadi bila artian yang dimaksudkan oleh pengirim berita dan artian yang
ditangkap oleh penerima berita itu sama dan satu. Sedangkan komunikasi yang
efisien terjadi bila biaya minimum berdasarkan sumber daya yang dimanfaatkan.
Komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok,
organisasi, dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung
dengan lingkungan dan orang lain. Komunikasi menurut para ahli:
1. Himstreet
& Baty
Komunikasi adalah suatu proses penukaran
informasi antar individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan
simbol-simbol, sinyal-sinyal, maupun perilaku atau tindakan.
2. The Odorson
& The Dorson
Komunikasi adalah penyebaran
informasi, ide-ide sebgai sikap atau emosi dari seseorang kepada orang lain
terutama melalui simbol-simbol.
3.CharlesH.Cooley
Komunikasi berarti suatu
mekanisme hubungan antar manusia dilakukan dengan mengartikan simbol secara
lisan dan membacanya melalui ruang dan menyimpan dalam waktu.
B. Proses Komunikasi
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikanpesan kepada komunikannya,
sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan
komunikatornya.Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasiyang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya).Proses komunikasi, banyak melalui perkembangan.
Proses komunikasi dapat terjadi apabila ada interaksi antarmanusia dan
ada penyampaian pesan untuk
mewujudkan motifkomunikasi.
Tahapan proses komunikasi adalah sebagai berikut :
2.
Penyandian.
3.
Pengiriman.
4.
Perjalanan.
5.
Penerimaan.
6.
Penyandian balik.
Penginterprestasian
Hal yang diinterpretasikan adalah motif komunikasi, terjadi dalam diri komunikator.
Artinya, proseskomunikasi tahap pertama bermula sejak motif komunikasi muncul hingga akal budi komunikator berhasil
menginterpretasikan apa yang ia pikir dan rasakan ke dalam pesan (masih
abstrak). Proses penerjemahan
motif komunikasi ke dalam pesan disebut interpreting.
Tahap ini masih ada dalam komunikator dari pesan yang bersifat
abstrak berhasil diwujudkan oleh akal budi manusia ke
dalam lambang komunikasi. Tahap ini disebut encoding, akal
budi manusia berfungsi
sebagai encorder, alat penyandi: merubah pesan abstrak menjadi
konkret.
Proses ini
terjadi ketika komunikator melakukan tindakan komunikasi, mengirim lambang komunikasidengan peralatan jasmaniah yang disebut transmitter,
alat pengirim pesan.
Tahapan ini
terjadi antara komunikator dan komunikan,
sejak pesan dikirim
hingga pesan diterima
olehkomunikan.
Penerimaan
Tahapan ini
ditandai dengan diterimanya lambang komunikasi melalui peralatan jasmaniah komunikan.
Tahap ini terjadi pada diri komunikan sejak
lambang komunikasi diterima melalui peralatan yang berfungsi
sebagai receiver hingga akal budinya berhasil
menguraikannya (decoding).
Tahap ini terjadi pada komunikan,
sejak lambang komunikasi berhasil diurai kan dalam bentuk pesan.
C. Hambatan Komunikasi
1. Hambatan fisik
Hambatan fisik menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan fisik atau badan seseorang, misalnya tuna rungu atau orang yang tidak bisa mendengar. Di sisi lain, hambatan fisik seperti saya harus berbicara keras dengan nenek saya karena fungsi pendengarannya yang sudah berkurang. Pesan saya kepada nenek pun terkadang tidak sesuai.
Hambatan fisik menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan fisik atau badan seseorang, misalnya tuna rungu atau orang yang tidak bisa mendengar. Di sisi lain, hambatan fisik seperti saya harus berbicara keras dengan nenek saya karena fungsi pendengarannya yang sudah berkurang. Pesan saya kepada nenek pun terkadang tidak sesuai.
Untuk mengatasi hambatan komunikasi terhadap nenek saya
ini atau orang yang memiliki fungsi pendengaran yang kurang maka saya akan
berbicara dengan ekspresi muka yang jelas dan suara lantang sehingga bisa
“terbaca”. Atau, informasi dituliskan sehingga nenek langsung paham maksudnya.
Hambatan komunikasi juga bisa saja terjadi apabila salah
satu pihak memerlukan bahasa isyarat seperti pada orang tuna wicara.
2. Hambatan kepribadian
Saya punya rekan kerja seorang pria yang sangat pemalu. Ia hanya berbicara seperlunya. Ia tidak punya sahabat dekat, saya pun dihitungnya sahabat baiknya. Ia mengatakan sudah beberapa kali mengikuti training “public speaking”. Ia berujar bahwa sulit baginya untuk memiliki topik pembicaraan dengan lawan jenis. Sifatnya yang minder dan pemalu akhirnya menjadi hambatannya saat kencan dengan wanita meski menurut saya, sahabat saya ini adalah pria rupawan.
Saya punya rekan kerja seorang pria yang sangat pemalu. Ia hanya berbicara seperlunya. Ia tidak punya sahabat dekat, saya pun dihitungnya sahabat baiknya. Ia mengatakan sudah beberapa kali mengikuti training “public speaking”. Ia berujar bahwa sulit baginya untuk memiliki topik pembicaraan dengan lawan jenis. Sifatnya yang minder dan pemalu akhirnya menjadi hambatannya saat kencan dengan wanita meski menurut saya, sahabat saya ini adalah pria rupawan.
Selain sifat pribadi di atas, orang-orang introvert juga
cenderung mengalami kesulitan untuk membangun percakapan pertama kali.
Kepribadian seperti sanguinis tentu jarang mengalami
hambatan berkomunikasi. Mereka biasanya selalu punya topik pembicaraan dalam
benak mereka dan memiliki pribadi yang menarik komunikatif.
3. Hambatan usia
Tentu tahu bahwa usia kadang menjadi hambatan saat kita berkomunikasi. Misalnya, anak takut menyampaikan sesuatu kepada orangtuanya. Atau, saat orang tua bicara anak harus diam mendengarkan, akibatnya komunikasi hanya terjadi satu arah saja.
Tentu tahu bahwa usia kadang menjadi hambatan saat kita berkomunikasi. Misalnya, anak takut menyampaikan sesuatu kepada orangtuanya. Atau, saat orang tua bicara anak harus diam mendengarkan, akibatnya komunikasi hanya terjadi satu arah saja.
Yang paling terkini misalnya, bagaimana anak remaja
sekarang (:baca Alay) menggunakan kalimat-kalimat slank yang sulit dipahami
oleh orang yang lebih tua. Kesenjangan usia memang harus dijembatani dengan
baik sehingga pesan yang disampaikan tercapai.
Di sekolah, kerap saya menemukan ada upaya mediasi antara
orangtua dengan anak melalui guru BP atau guru wali kelas agar tidak terjadi
hambatan komunikasi antara orangtua siswa dengan siswa.
4. Hambatan budaya
Hambatan budaya dapat terlihat seperti yang pernah saya jumpai seorang perempuan saat saya transit di Bandara Dubai. Ia membutuhkan informasi tapi saya tidak bisa membalasnya (saat itu saya berbicara bahasa inggris) karena saya tidak mendengar dengan jelas. Saya tidak bisa melihat ekspresi mukanya saat berbicara karena dalam budayanya Ia harus mengenakan penutup mulut. Ia adalah perempuan dari negara belahan Timur Tengah yang memang harus mengenakan busana demikian.
Hambatan budaya dapat terlihat seperti yang pernah saya jumpai seorang perempuan saat saya transit di Bandara Dubai. Ia membutuhkan informasi tapi saya tidak bisa membalasnya (saat itu saya berbicara bahasa inggris) karena saya tidak mendengar dengan jelas. Saya tidak bisa melihat ekspresi mukanya saat berbicara karena dalam budayanya Ia harus mengenakan penutup mulut. Ia adalah perempuan dari negara belahan Timur Tengah yang memang harus mengenakan busana demikian.
Atau misalnya, di Thailand untuk mengucapkan kalimat
“terimakasih” akan berbeda bila disampaikan perempuan menjadi “Kopunka”
sedangkan apabila laki-laki menjadi “Kopunkap”.
Untuk budaya tertentu misalnya perempuan dalam
berkomunikasi mendapat porsi nomor dua setelah ayah, suami dan kakak laki-laki.
5. Hambatan bahasa
Bahasa kerap menjadi hambatan bila kita berada di negara yang tidak sama bahasa ibu yang miliki. Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita bagaimana saya berupaya membantu teman kelas kursus bahasa jerman yang berasal dari negara Slovenia. Saya pun menggunakan google translate saat saya menyampaikan tugas pekerjaan rumah yang kemudian saya kirim lewat email. Meski tidak seratus persen terjemahan itu benar tapi ia cukup mengerti pesan yang saya sampaikan.
Bahasa kerap menjadi hambatan bila kita berada di negara yang tidak sama bahasa ibu yang miliki. Dalam tulisan sebelumnya, saya bercerita bagaimana saya berupaya membantu teman kelas kursus bahasa jerman yang berasal dari negara Slovenia. Saya pun menggunakan google translate saat saya menyampaikan tugas pekerjaan rumah yang kemudian saya kirim lewat email. Meski tidak seratus persen terjemahan itu benar tapi ia cukup mengerti pesan yang saya sampaikan.
Lain lagi saat saya kedatangan teman dari RRC yang hanya
bisa bahasa ibu dan kami bersahabat untuk bertukar informasi satu sama lain.
Saya tidak bisa bahasa mandarin. Dia tidak bisa bahasa Inggris dan sedikit
mengerti bahasa Indonesia. Saya terkesan sekali saat kami merayakan hari ulang
tahun bersama, saling mentraktir dan berkomunikasi dengan berbagai macam cara
seperti menulis, gerakan tangan, menggambar, ekspresi muka hingga menggunakan
alat peraga. Intinya adalah kita harus saling mendengarkan satu sama lain agar
komunikasi terkesan “nyambung”.
Beberapa kali saya kesasar di negara orang pun, bekal
saya dalam berkomunikasi dengan bahasa sebagai hambatan yakni membawa kamus,
alat tulis, kertas, kalkukator dan alamat kita tinggal.
6. Hambatan kecakapan teknologi
Dalam suatu pertemuan mediasi komunikasi orangtua dan anak di suatu sekolah, saya menampilkan slide show tentang sms seorang ABG remaja kepada kekasihnya dengan menggunakan kalimat atau kata-kata slank atau bahasa Alay. Bahasa Alay menggunakan huruf besar dan huruf kecil dalam satu kata juga cenderung tidak lengkap sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Apa yang terjadi? Orangtua tidak bisa menangkap pesan SMS tersebut.
Dalam suatu pertemuan mediasi komunikasi orangtua dan anak di suatu sekolah, saya menampilkan slide show tentang sms seorang ABG remaja kepada kekasihnya dengan menggunakan kalimat atau kata-kata slank atau bahasa Alay. Bahasa Alay menggunakan huruf besar dan huruf kecil dalam satu kata juga cenderung tidak lengkap sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan. Apa yang terjadi? Orangtua tidak bisa menangkap pesan SMS tersebut.
Kecakapan teknologi lainnya seperti penggunaan
fitur-fitur handphone pintar yang tidak semua orang bisa menggunakannya.
Saya pernah mengalami hambatan komunikasi saat tawar
menawar membeli sovenir. Jurus komunikasi saya cuma satu dalam tawar menawar,
yakni bawa kalkulator. Saat sedang tawar menawar kalkulator di HP saya habis
baterai. Atau, mau menggunakan google translate tetapi baterai HP mati.
7. Hambatan lingkungan alam dan kondisi sekitar.
Hal ini bisa mudah ditemui semisal kita menjadi salah menangkap maksud komunikasi karena suara yang bising atau polusi suara.
Hal ini bisa mudah ditemui semisal kita menjadi salah menangkap maksud komunikasi karena suara yang bising atau polusi suara.
Lingkungan alam lain misalnya letak atau jarak pengirim
pesan dengan penerima pesan yang berjauhan menyebabkan informasi tidak diterima
dengan jelas.
Kita juga misalnya akan berbicara dengan pelan saat malam
hari, waktu tidur. Atau waktu tidur siang di beberapa negara Eropa, orang
sekitar diharapkan tidak menimbulkan kegaduhan suara. Sehingga kita cenderung
berbisik atau bersuara pelan jika berbicara.
D. Komunikasi
Interpersonal
Komunikasi
interpersonal adalah
komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih, yang biasanya tidak
diatur secaraformal. Dalam komunikasi interpersonal,
setiap partisipan menggunakan semua elemen dari proses komunikasi. Misalnya, masing-masing
pihak akan membicarakan latar belakang dan pengalaman masing-masing dalam percakapan
tersebut.
Komunikasi
sangat penting bagi semua aspek kehidupan manusia.
Dengan komunikasi manusia dapat mengekspresikangagasan, perasaan, harapan dan kesan kepada
sesama serta memahami gagasan, perasaan dan kesan orang lain. Komunikasi tidak hanya mendorong perkembangan kemanusiaan yang utuh, namun juga
menciptakan hubungan sosial yang sangat diperlukan dalam kelompok
sosial apapun. Komunikasi
memungkinkan terjadinya kerja sama sosial, membuat kesepakatan-kesepakatan
penting dan lain-lain. Individu yang terlibat dalam komunikasi memiliki latar belakang sosial,budaya dan pengalaman psikologis yang berbeda-beda. Perbedaan ini dapat mempengaruhi efektifitas sebuah komunikasi. Sangat penting bagi
setiap individu untuk memahami simbol-simbol yang digunakan dalam komunikasi,
baiksimbol verbal maupun nonverbal. Komunikasi interpersonal adalah
komunikasi yang melibatkan dua orang atau lebih. Setiap pihak dapat menjadi pemberi
dan pengirim pesan sekaligus pada waktu yang bersamaan.
Pelatihan dan pengembangan
Definisi
Pelatihan - Menurut Mathis (2002),Pelatihan adalah suatu proses dimana orang-orang mencapai
kemampuan tertentu untuk membantu mencapai tujuan organisasi. Oleh karena itu,
proses ini terikat dengan berbagai tujuan organisasi,pelatihan dapat dipandang secara sempit maupun luas. Secara
terbatas, pelatihan menyediakan para pegawai dengan pengetahuan yang spesifik
dan dapat diketahui serta keterampilan yang digunakan dalam pekerjaan mereka
saat ini. Terkadang ada batasan yang ditarik antara pelatihan dengan
pengembangan, dengan pengembangan yang bersifat lebih luas dalam cakupan serta
memfokuskan pada individu untuk mencapai kemampuan baru yang berguna baik bagi
pekerjaannya saat ini maupun di masa mendatang.
Sedangkan Payaman Simanjuntak (2005) mendefinisikan pelatihan merupakan bagian dari investasi SDM (human investment) untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja, dan dengan demikian meningkatkan kinerja pegawai. Pelatihan biasanya dilakukan dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan jabatan, diberikan dalam waktu yang relatif pendek, untuk membekali seseorang dengan keterampilan kerja.
Pelatihan didefinisikan oleh Ivancevich sebagai “usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam pekerjaannya sekarang atau dalam pekerjaan lain yang akan dijabatnya segera”. Selanjutnya, sehubungan dengan definisi nya tersebut, Ivancevich (2008) mengemukakan sejumlah butir penting yang diuraikan di bawah ini: Pelatihan (training) adalah “sebuah proses sistematis untuk mengubah perilaku kerja seorang/sekelompok pegawai dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi”.Pelatihan terkait dengan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan yang sekarang dilakukan. Pelatihan berorientasi ke masa sekarang dan membantu pegawai untuk menguasai keterampilan dan kemampuan (kompetensi) yang spesifik untuk berhasil dalam pekerjaannya.
Sedangkan Payaman Simanjuntak (2005) mendefinisikan pelatihan merupakan bagian dari investasi SDM (human investment) untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan kerja, dan dengan demikian meningkatkan kinerja pegawai. Pelatihan biasanya dilakukan dengan kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan jabatan, diberikan dalam waktu yang relatif pendek, untuk membekali seseorang dengan keterampilan kerja.
Pelatihan didefinisikan oleh Ivancevich sebagai “usaha untuk meningkatkan kinerja pegawai dalam pekerjaannya sekarang atau dalam pekerjaan lain yang akan dijabatnya segera”. Selanjutnya, sehubungan dengan definisi nya tersebut, Ivancevich (2008) mengemukakan sejumlah butir penting yang diuraikan di bawah ini: Pelatihan (training) adalah “sebuah proses sistematis untuk mengubah perilaku kerja seorang/sekelompok pegawai dalam usaha meningkatkan kinerja organisasi”.Pelatihan terkait dengan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk pekerjaan yang sekarang dilakukan. Pelatihan berorientasi ke masa sekarang dan membantu pegawai untuk menguasai keterampilan dan kemampuan (kompetensi) yang spesifik untuk berhasil dalam pekerjaannya.
Pelatihan menurut Gary Dessler (2009) adalah Proses mengajarkan
karyawan baru atau yang ada sekarang, ketrampilan dasar yang mereka butuhkan
untuk menjalankan pekerjaan mereka”.Pelatihan merupakan salah satu usaha dalam meningkatkan mutu
sumber daya manusia dalam dunia kerja. Karyawan, baik yang baru ataupun yang
sudah bekerja perlu mengikuti pelatihankarena adanya tuntutan pekerjaan yang dapat berubah
akibat perubahan lingkungan kerja, strategi, dan lain sebagainya.
Tujuan Pelatihan
Tujuan umum pelatihan sebagai berikut : (1) untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif, (2) untuk mengembangkan pengetahuan,sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional, dan (3) untuk mengembangkan sikap,sehingga menimbulkan kemauan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan dengan manajemen (pimpinan).
Sedangkan komponen-komponen pelatihan sebagaimana dijelaskan oleh Mangkunegara (2005) terdiri dari :
1) Tujuan dan sasaran pelatihan dan pengembangan harus jelas dan dapat di ukur
2) Para pelatih (trainer) harus ahlinya yang berkualitas memadai (profesional)
3) Materi pelatihan dan pengembangan harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak di capai
4) Peserta pelatihan dan pengembangan (trainers) harus memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Dalam pengembangan program pelatihan, agar pelatihan dapat bermanfaat dan mendatangkan keuntungan diperlukan tahapan atau langkah-langkah yang sistematik. Secara umum ada tiga tahap pada pelatihan yaitu tahap penilaian kebutuhan, tahap pelaksanaan pelatihan dan tahap evaluasi. Atau dengan istilah lain ada fase perencanaan pelatihan, fase pelaksanaan pelatihan dan fase pasca pelatihan.
Mangkunegara (2005) menjelaskan bahwa tahapan-tahapan dalam pelatihan dan pengembangan meliputi : (1) mengidentifikasi kebutuhan pelatihan / need assesment; (2) menetapkan tujuan dan sasaran pelatihan; (3) menetapkan kriteria keberhasilan dengan alat ukurnya; (4) menetapkan metode pelatihan; (5) mengadakan percobaan (try out) dan revisi; dan (6) mengimplementasikan dan mengevaluasi.
Tujuan Pelatihan
Tujuan umum pelatihan sebagai berikut : (1) untuk mengembangkan keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat dan lebih efektif, (2) untuk mengembangkan pengetahuan,sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional, dan (3) untuk mengembangkan sikap,sehingga menimbulkan kemauan kerjasama dengan teman-teman pegawai dan dengan manajemen (pimpinan).
Sedangkan komponen-komponen pelatihan sebagaimana dijelaskan oleh Mangkunegara (2005) terdiri dari :
1) Tujuan dan sasaran pelatihan dan pengembangan harus jelas dan dapat di ukur
2) Para pelatih (trainer) harus ahlinya yang berkualitas memadai (profesional)
3) Materi pelatihan dan pengembangan harus disesuaikan dengan tujuan yang hendak di capai
4) Peserta pelatihan dan pengembangan (trainers) harus memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Dalam pengembangan program pelatihan, agar pelatihan dapat bermanfaat dan mendatangkan keuntungan diperlukan tahapan atau langkah-langkah yang sistematik. Secara umum ada tiga tahap pada pelatihan yaitu tahap penilaian kebutuhan, tahap pelaksanaan pelatihan dan tahap evaluasi. Atau dengan istilah lain ada fase perencanaan pelatihan, fase pelaksanaan pelatihan dan fase pasca pelatihan.
Mangkunegara (2005) menjelaskan bahwa tahapan-tahapan dalam pelatihan dan pengembangan meliputi : (1) mengidentifikasi kebutuhan pelatihan / need assesment; (2) menetapkan tujuan dan sasaran pelatihan; (3) menetapkan kriteria keberhasilan dengan alat ukurnya; (4) menetapkan metode pelatihan; (5) mengadakan percobaan (try out) dan revisi; dan (6) mengimplementasikan dan mengevaluasi.
B. Tujuan dan sasaran pelatihan dan pengembangan
Tujuan dan Manfaat Pelatihan dan Pengembangan
Tujuan umum pelatihan dan pengembangan, harus diarahkan
untuk meningkatkan produktifitas organisasi. Tujuan pelatihan dan pengembangan
merupakan langkah untuk meningkatkan produktivitas organisasi melalui berbagai
kegiatan antara lain:
1. Mengembangkan
pengetahuan, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan secara rasional.
2. Mengembangkan
keterampilan atau keahlian, sehingga pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat
dan efektif.
Tujuan pelatihan :
1. Untuk
meningkatkan keterampilan para karyawan sesuai dengan perubahan teknologi.
2. Untuk
meningkatkan produktivitas kerja organisasi.
3. Untuk
mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru agar menjadi kompeten.
4. Untuk
membantu masalah operasional.
5. Memberi
wawasan kepada para karyawan untuk lebih
mengenal organisasinya.
6. Meningkatkan
kemampuan peserta latihan mengerjakan tugasnya yang sekarang.
7. Kemampuan
menumbuhkan sikap empati dan melihat sesuatu dari “kacamata” orang lain.
8. Meningkatkan
kemampuan menginterpretasikan data dan daya nalar para karyawan.
9. Meningkatkan
kemampuan dan keterampilan para karyawan dalam menganalisis suatu permasalahan
serta pengambilan keputusan.
Tujuan pengembangan :
1. Mewujudkan
hubungan yang serasi antara atasan dan bawahan.
2. Menyiapkan
para manajer yang berkompeten untuk lebih cepat masuk ke tingkat senior
(promosi jabatan).
3. Untuk
membantu mengisi lowongan jabatan tertentu.
4. Meningkatkan
semangat kerja seluruh tenaga kerja dalam organisasi dengan komitmen
organisasional yang lebih tinggi.
5. Mendorong
sikap keterbukaan manajemen melalui gaya manajerial yang partisipatif.
6. Meningkatkan
kepuasan kerja.
7. Memperlancar
jalannya komunikasi yang efektif yang dapat memperlancar proses perumusan
kebijakan organisasi dan operasionalnya.
8. Mengembangkan atau merubah
sikap, sehingga menimbulkan kemauan kerja sama dengan sesama karyawan dan
manajemen ( pimpinan ).
C. Perbedaan pelatihan dan pengembangan
Pelatihan (training) merupakan
proses pembelajaran yang melibatkan perolehan keahlian, konsep, peraturan, atau
sikap untuk meningkatkan kinerja tenga kera.(Simamora:2006:273). Menurut pasal
I ayat 9 undang-undang No.13 Tahun 2003. Pelatihan kerja adalah keseluruhan
kegiatan untuk memberi, memperoleh, meningkatkan, serta mengembangkan
kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat
ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan
dan pekerjaan.
Pengembangan (development) diartikan
sebagai penyiapan individu untuk memikul tanggung jawab yang berbeda atau yang
Iebih tinggi dalam perusahaan, organisasi, lembaga atau instansi pendidikan,
Menurut (Hani Handoko:2001:104)
pengertian latihan dan pengembangan adalah berbeda. Latihan (training)
dimaksudkan untuk memperbaiki penguasaan berbagal ketrampilan dan teknik
pelaksanaan kerja tertentu, terinci dan rutin. Yaitu latihan rnenyiapkan para
karyawan (tenaga kerja) untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan sekarang. Sedangkan
pengembangan (Developrnent) mempunyai ruang lingkup Iebih luas dalam upaya
untuk memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan, kemampuan, sikap dlan
sifat-sifat kepribadian.
(Gomes:2003:197) Mengemukakan
pelatihan adalah setiap usaha untuk memperbaiki performansi pekerja pada suatu
pekerjaan tertentu yang sedang menjadi tanggungjawabnya. Menurutnya istilah
pelatihan sering disamakan dengan istilah pengembangan, perbedaannya kalau
pelatihan langsung terkait dengan performansi kerja pada pekerjaan yang
sekarang, sedangkan pengembangan tidaklah harus, pengembangan mempunyai skcope
yang lebih luas dandingkan dengan pelatihan.
Pelatihan Iebih terarah pada
peningkatan kemampuan dan keahlian SDM organisasi yang berkaitan dengan jabtan
atau fungsi yang menjadi tanggung jawab individu yang bersangkutan saat ini
(current job oriented). Sasaran yang ingin dicapai dan suatu program pelatihan
adalah peningkatan kinerja individu dalam jabatan atau fungsi saat ini.
Pengembangan cenderung lebih
bersifat formal, menyangkut antisipasi kemampuan dan keahhan individu yang
harus dipersiapkan bagi kepentingan jabatan yang akan datang. Sasaran dan
program pengembangan menyangkut aspek yang lebih luas yaitu peningkatan
kemampuan individu untuk mengantisipai perubahan yang mungkin terrjadi tanpa
direncanakan(unplened change) atau perubahan yang direncanakan (planed change).
(Syafaruddin:200 1:2 17).
Hal serupa dikemukakan
(Hadari:2005:208). Pelatihan adaah program-program untuk memperbaiki kernampuan
melaksanakan pekerjaan secara individual, kelompok dan/atau berdasarkan jenjang
jabatan dalam organisasi atau perusahaan. Sedangkan pengembangan karir adalah
usaha yang diakukan secara formal dan berkelanjutan dengan difokuskan pada
peningkatan dan penambahan kemampuan seorang pekerja. Dan pengertian ini
menunjukkan bahwa fokus pengembangan karir adalah peningkatan kemampuan mental
tenaga kerja.
D. Faktor
Psikologi Dalam Pelatihan Dan Pengembangan
Faktor-faktor
yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pelatihan
Menurut
Dole Yoder (dalam As’ad, 1998:67-70) agar pelatihan dan pengembangan dapat
berhasil dengan baik, maka harus diperhatikan delapan faktor sebagai berikut:
1.
Individual Differences
Tiap-tiap
individu mempunyai ciri khas, yang berbeda satu sama lain, baik mengenai
sifatnya, tingkah lakunya, bentuk badannya maupun dalam pekerjaannya. Oleh
karena itu, dalam merencanakan dan melaksanakan suatu pelatihan harus diingat
adanya perbedaan individu ini. Perbedaan dapat nampak pada waktu para karyawan
mengerjakan suatu pekerjaan yang sama, dengan diperolehnya hasil yang berbeda
2.Relation
to job analysis
Tugas
utama dari analisa jabatan untuk memberikan pengertian akan tugas yang harus
dilaksanakan didalam suatu pekerjaan, serta untuk mengetahui alat-alat apa yang
harus dipergunakan dalam menjalankan tugas itu. Untuk memberikan pelatihan pada
para karyawan terlebih dahulu harus diketahui keahlian yang dibutuhkannya.
Dengan demikian program dari pelatihan dapat di arahkan atau ditujuakan untuk
mencapai keahlian itu. Suatu pelatihan yang tidak disesuaikan dengan bakat,
minat dan lapangan kerja karyawan, berakibat merugikan berbagai pihak, yaitu
karyawan, perusahaan dan masyarakat.
3.
Motivation
Motivasi
dalam pelatihan ini sangat perlu sebab pada dasarnya motif yang mendorong
karyawan untuk menjalankan pelatihan tidak berbeda dengan motif yang
mendorongnya untuk melakukan tugas pekerjaannya.
4.
Active Participation
Didalam
pelaksanaan pendidikan pelatihan para trainess harus turut aktif mengambil
bagian di dalam pembicaraan-pembicaraan mengenai pelajaran yang diberikan,
sehingga akan menimbulkan kepuasan pada para trainess apabila saran-sarannya
diperhatikan dan dipergunakan sebagai bahan-bahan pertimbangan untuk memecahkan
kesulitan yang mungkin timbul.
5.
Selection of trainee
Pelatihan
sebaiknya diberikan kepada mereka yang berminat dan menunjukkan bakat untuk
dapat mengikuti latihan itu dengan berhasil. Dengan demikian apabila latihan
diberikan kepada mereka yang tidak mempunyai minat, bakat dan pengalaman,
kemungkinan berhasil sedikit sekali. Oleh karena itulah sangat perlu diadakan
seleksi.
6.
Selection of trainers
Berhasil
atau tidaknya seseorang melakukan tugas sebagai pengajar, tergantung kepada ada
tidaknya persamaan kualifikasi orang tersebut dengan kualifikasi yang tercantum
dalam analisa jabatan mengajar. Itulah sebabnya seorang trainer yang baik harus
mempunyai kecakapan-kecakapan sebagai berikut:
1)
Pengetahuan vak yang mendalam dan mempunyai kecakapan vak
2)
Mempunyai rasa tanggungjawab dan sadar akan kewajiban
3)
Bijaksana dalam segala tindakan dan sabar
4)
Dapat berfikir secara logis
5)
Mempunyai kepribadian yang menarik
7.
Trainer Pelatihan
Trainer
sebelum diserahi tanggung jawab untuk memberikan pelajaran hendaknya telah
mendapatkan pendidikan khusus untuk menjadi tenaga pelatih. Dengan demikian
salah satu asas yang penting dalam pendidikan ialah agar para pelatih
mendapatkan didikan sebagai pelatih
8.
Training Methods
Metode
yang dipergunakan dalam pelatihan harus sesuai dengan jenis pelatihan yang
diberikan. Misalnya, pemberian kuliah tidak sesuai untuk para karyawan
pelaksana. Untuk karyawan pelaksana hendaknya diberikan lebih banyak peragaan
disamping pelajaran teoritis.
E. Teknik dan metode pelatihan
Teknik Pelatihan
Dalam
penyelenggaraan pelatihan, tidak ada satupun metode dan teknik pelatihan yang
paling baik. Semuanya tergantung pada situasi kondisi kebutuhan. Dalam memilih
metode dan teknik suatu pelatihan ditentukan oleh banyak hal. Seperti
dikemukakan William B. Werther (1989 : 290) sebagai berikut:
“That
is no simple technique is always best; the best method dependson : cost
effectiveness; desired program content; learning principles; appropriateness of
the facilities; trainee preference and capabilities; and trainer preferences
and capabilities”.
Artinya,
tidak ada satu pelatihan yang paling baik, metode yang paling baik tergantung
pada efektifitas biaya, isi program yang diinginkan, prinsip-prinsip belajar,
fasilitas yang layak, kemampuan dan preference peserta, serta kemampuan dan
preference pelatih.
Kemudian
Sondang. P Siagian (1994 : 192) menegaskan tepat tidaknya teknik pelatihan yang
digunakan sangat tergantung dari berbagai pertimbangan yang ingin ditonjolkan
seperti kehematan dalam pembiayaan, materi program, tersedianya fasilitas
tertentu, preferensi dan kemampuan peserta, preferensi kemampuan pelatih dan
prinsip-prinsip belajar yang hendak diterapkan. Walaupun demikian, pengelola
pelatihan hendaknya mengenal dan memahami semua metode dan teknik mana yang
paling tepat digunakan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi yang ada.
William B. Werther (1989), Henry Simamora(1997) dan Soekidjo Notoatmodjo (1991)
mengidentifikasi ada dua pendekatan atau metode pokok dalam pelatihan yaitu On
the job training dan Off the job training. Keduanya memiliki kelebihan dan
kekurangan serta penggunaannya harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Metode
Pelatihan
A.
On the Job Training
Pelatihan
yang diberikan pada saat karyawan bekerja. Sambil bekerja seperti biasa,
karyawan memperoleh umpan balik secara langsung dari pelatihnya, (Handoko,
1989). Dilakukan oleh semua perusahaan, terutama untuk karyawan baru atau
karyawan yang berpengalaman.
Keuntungannya:
relatif tidak mahal, peserta pelatihan bisa belajar sambil tetap menjalankan
proses produksi, tidak perlu ruang kelas khusus. Bentuk pelatihan on the job
training :
· Coaching/pendampingan
Karyawan
dibimbing, diarahkan oleh atasan / supervisor / karyawan lain yang lebih
berpengalaman. Hubungan mereka serupa dengan hubungan karyawan- tutor. Cara ini
akan berjalan efektif apabila periode
selama bimbingan dan umpan balik di perpanjang.
· Rotasi Pekerjaan
Peserta
pelatihan ditugaskan untuk berpindah dari satu bagian ke bagian pekerjaan yang
lain dalam satu perusahaan, dengan interval yang terencana, sehingga diperoleh
pengalaman kerja. Cara ini umum dipakai dalam melatih manajer dengan level
manajerial apapun juga.
· Apprenticeship/magang
Merupakan
pembelajaran bagi karyawan lama yang lebih berpengalaman.
· Pelatihan Instruksi Jabatan (Job
Instruction Training)
Diberikan
untuk pekerjaan yang terdiri dari urutan langkah-langkahyang logis. Semua
langkah perlu ditata dalam urutan yang tepat. Petunjuk pengerjaan diberikan
secara langsung pada pekerjaan yang sedang dilakukan. Contoh sederhana :
mengoperasikan mesin pintal benang.
B. Off the Job Training
Teknik
pelatihan yang dilakukan diluar waktu kerja, dan berlangsung dilokasi jauh dari
tempat kerja, agar perhatian peserta lebih terfokus. Peserta pelatihan menerima
presentasi tentang aspek tertentu, kemudian mereka diminta memberikan tanggapan
sebagaimana dalam kondisi yang sebenarnya. Dalam teknik ini juga digunakan
metode simulasi. Keuntungan Off the Job Training :
- Trainer/Instruktur harus lebih terampil dalam
mengajar, karena tidak ada tuntutan pekerjaan yang lain.
- Trainee/karyawan terhindar dari kekacauan dan
tekanan situasi kerja, sehingga mampu konsentrasi lebih baik/lebih terfokus
perhatiannya.
- Tidak mengganggu proses produksi yang sedang
berjalan di perusahaan.
- Waktu dan perhatian lebih memadai, contohnya:
Balai Pelatihan
Sumber :

0 komentar:
Posting Komentar