Kamis, 30 April 2015

Tugas Softskill 3

A. Psikoanalisa
1.      Konsep
Psikoanalisis adalah suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikonalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan-dorongan ini sebagian di sadari dan sebagian lagi tidak disadari. Sebagaimana yang diketahui bahwa teori-teori yang dikemukakan oleh Freud banyak dilandasi oleh hal-hal yang biologis. Arlow (1989) mengatakan bahwa psikoanalisis adalah sistem dalam psikologi yang lengkap dan luas, meliputi pengalaman-pengalaman dunia dalam dan dunia luar. Dasar biologis dan peranan sosial seseorang yang kesemuanya berfungsi dalam kehiduan pribadi maupun kelompok.
Psikoanalisis sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahanya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitanya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil.
2.      Unsur-unsur terapi
Dari proses psikoanalisis yang berlangsung hal yang penting ialah masalah tranferens. Transferens dalam arti sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang. Pada saat seperti itu, pada saat pasien sedang menghubung-hubungkan hambatan yang dialami dengan konflik yang terjadi dibawah sadar mengenai harapan-harapan terhadap seseorang atau beberapa orang yang penting dalam hidupnya, gejala baru akan muncul an menimbulkan kesan bercampur-baur, antara lain karena kehadiran psikoanalisisnya. Inilah saat-saat kritis, karena pasien harus menghadapi hal-hal yang idealistis sesuai dengan yang diinginkan, namun ia harus menghadapi kenyataan sebagai sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi.
Memahami masalah transferens merupakan sesuatu yang penting dalam pelaksanaan psikoanalisis. Arlow 1989 (dalam Corsini, 1989) mengatakan bahwa psikoanalisis harus memahami bahwa dalam transferens pasien secera tidak sadar mengulang tindakan yang akan datang dari ingatan-ingatan masa anak yang terlupakan dan khayalan-khayalan yang tidak disadari  yang ditekan.


3.      Teknik terapi
a)      Asosiasi bebas : klien meninggalkan cara berfikir yang biasa-menyensor pikiran. Yang dilakukan adalah mengatakan apa yang muncul dalam pikiran, meskipun kelihatanya aneh, irasional menggelikan atau menyakitkan. Dengan acara ini Id diminta untuk berbicara, sedangkan ego tinggal diam.
b)      Analisis Mimpi : menurut Freud, mimpi adalah sarana untuk memahami yang tak disadari. Ia menyebutkan the royal road to the unconscious. Klien didorong untuk bermimpi dan mengingat-ingat mimpinya. Analisis harus menyadari manifest content (arti yang nyata atau kelihatan) dan latent (arti tersembunyi tapi sesungguhnya)
c)      Analisis tranferensi : transferens adalah respon klien kepada seorang konselor, seakan-akan konselor adalah orang signifikn didalam kehidupan klien yang lalu, biasanya tokoh orangtua. Analisis mendorong transferen ini dan menginteprestasikan perasaan-perasaan positif dan negatif yang diekspresikan. Pelepasan perasaan ini bersifat terapeutik, merupakan katarsis emosional.
d)     Analisis resistensi : kadang-kadang klien pada awalnya menunjukan kemajuan, tetapi kemudian melambat atau berhenti. Resistensi mereka mungkin mengambil berbagai bentuk, misalnya tidak datang pada perjanjian, menghalangi pikiran pada waktu melakukan asosiasi bebas, menolak mengingat mimpi dan lain-lain.
e)      Interpretasi : intrepestasi harus dianggap sebagai bagian dari teknik-teknik yang telah disebutkan di atas. Pada waktu melakukan interpretasi konselor membantu klien memahami arti peristiwa dari masalalu dan sekarang. Interpretasi menyangkut penjelasan dan analisis berbagai pikiran, perasaan dan tindakan klien. Konselor harus memilih waktu yang tepat untuk melakukan interpretasi.

0 komentar:

Posting Komentar