B.
Humanistik
1. Konsep
Psikologi
eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendeketan ini terutama
adalah suatu sikap yang menekankannya pada pemahaman atas manusia alih-alih
suatu system teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendeketan
eksistensial humanistic bukan suatu aliran terapi, bukan pula suatu teori
tunggal yang sistematik. Pendeketan terapi eksistansial humanistic juga bukan
menyangkut terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan
konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
a.
Kesadaran diri : manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri.
Suatu
kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan
memutuskan.
b.
Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan : Kesadaran atas kebebasan dan tanggung
jawab yag bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia.
Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasan
atas keterbatasan nya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati.
2. Unsur-unsur terapi
Terapi
eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan
menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat
membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Bugental (1965) mengatakan
keotentikan sebagai “urusan utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”,
terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik (1) menyadari sepenuhnya
keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3)
memikul tanggung jawab untuk memilih.
3. Teknik terapi
Analisis
eksistensial dibangun atas teori-teori terapi pokok, yaitu teori proses
terapiotik, terapi isi terapeutik dan teori relasasi terapeutik.
a. Teori proses terapeutik
Analisis
esistensial melihat ketidakotentikan sebagai sumber psikopatologi, maka dalam
pandangan analisis eksistensial, keotentikan merupakan jalan keluar
psikopatologi itu sekaligus tujuan ideal terapi. Proses untuk mencapai tujuan
ideal yaitu proses peningkatan kesadaran. Terapis analisis eksistensial akan
menggunakan setiap kesempatan untuk menjelaskan pilihan yang dihadapi dengan
pasien dalam pertemuan terapi, yakni apakah itu pilihan yang menyangkut hal-hal
yang akan disampingkan kepada terapis ataupun pilihan yang menyangkut
kesinambungan untuk mendatangi pertemuan terapi.
b. Terapi isi terapeutik
Analisis
eksistensial mengambil teori yang relative komperensif tentang keberadaan yang
mempermasalahkan individu pada tiga taraf fungsi personalnya.
Ada-dalam-alam-nada-bagi-diri-sendiri berkisar pada fungsi intrapersonal.
Ada-bersama-orang-lain adalah konsep mengenai fungsi intra personal sedangkan
ada-dalam-dunia mencakup tetatpi lebih besar daripada relasasi individu dengan
lingkungan yang mengacu pada fungsi sosial individu.
1) Konflik-konflik intrapersonal
Dalam
praktek para terapis menangani pasien secara individual dengan fokus pada
konflik yang ada didalam diri individu. Konflik antara kecemesan eksistensial
yang inheren pada keberadaan dengan ketidak jujuran yang digunakan individu
sebagai pertahanan melawan kecemasan eksistensial.
2) Konflik-konflik interpersonal
Aspek lain
yang terdapat pada taraf interpersonal individu adalah seksualitas. Tetapi tidak
seperti dalam psikoanalisa dalam analisis eksistensial seksualitas tidak
dipermasalahkan.
3) Konflik-konflik individu vs lingkungan
Eksistensial
dan terapi analisis eksistensial menekankan bahwa dalam lingkungan untuk
menjadi pribadi yang sehat atau otentik tidak berarti individu menjadi
antisocial atau anti aturan, lebih berarti bahwa individu mengarahkan dirinya
menjadi otonom.
4) Konflik menuju pemenuhan diri
Individu
mampu membuat makna hidup dan nilai-nilai maka individu bisa melaksanakan
pemenuhan diri yang akan mengantarkan dirinya kepada tujuan hidup yang ideal,
yang juga menjadi tujuan ideal terapi : keotentikan atau keberadaan yang
otentik.
c. Teori relasi terapeutik
Relasi
diantara terapis dan pasiennya merupakan sumber proses perubahan sekalipun
sumber isi terapeutik. Sebagai sumber proses perubahan artinya relasi
terapeutik bisa menunjang proses perbaikan atau kesembuhan pasien, jika relasi
terapeutik berwujud relasi aku-kamu dimana terapis memandang pasiesn sebagai
subjek dan sebaliknya pasiesn siap tampil sebagai subjek yang terbuka terhadap
terapis maupun terhadap dirinya sendiri, yang berarti dia bersedia meninggalkan
ketidakjujuran atau mekanisme pertahanan.

0 komentar:
Posting Komentar