Kamis, 30 April 2015

Tugas Softskill 3

B. Humanistik
1.     Konsep
Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendeketan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankannya pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendeketan eksistensial humanistic bukan suatu aliran terapi, bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik. Pendeketan terapi eksistansial humanistic juga bukan menyangkut terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
a. Kesadaran diri : manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri.
Suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
b. Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan : Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab yag bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasan atas keterbatasan nya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati.

2.      Unsur-unsur terapi
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Bugental (1965) mengatakan keotentikan sebagai “urusan utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”, terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggung jawab untuk memilih.

3.      Teknik terapi
Analisis eksistensial dibangun atas teori-teori terapi pokok, yaitu teori proses terapiotik, terapi isi terapeutik dan teori relasasi terapeutik.
a.       Teori proses terapeutik
Analisis esistensial melihat ketidakotentikan sebagai sumber psikopatologi, maka dalam pandangan analisis eksistensial, keotentikan merupakan jalan keluar psikopatologi itu sekaligus tujuan ideal terapi. Proses untuk mencapai tujuan ideal yaitu proses peningkatan kesadaran. Terapis analisis eksistensial akan menggunakan setiap kesempatan untuk menjelaskan pilihan yang dihadapi dengan pasien dalam pertemuan terapi, yakni apakah itu pilihan yang menyangkut hal-hal yang akan disampingkan kepada terapis ataupun pilihan yang menyangkut kesinambungan untuk mendatangi pertemuan terapi.

b.      Terapi isi terapeutik
Analisis eksistensial mengambil teori yang relative komperensif tentang keberadaan yang mempermasalahkan individu pada tiga taraf fungsi personalnya. Ada-dalam-alam-nada-bagi-diri-sendiri berkisar pada fungsi intrapersonal. Ada-bersama-orang-lain adalah konsep mengenai fungsi intra personal sedangkan ada-dalam-dunia mencakup tetatpi lebih besar daripada relasasi individu dengan lingkungan yang mengacu pada fungsi sosial individu.
1)      Konflik-konflik intrapersonal
Dalam praktek para terapis menangani pasien secara individual dengan fokus pada konflik yang ada didalam diri individu. Konflik antara kecemesan eksistensial yang inheren pada keberadaan dengan ketidak jujuran yang digunakan individu sebagai pertahanan melawan kecemasan eksistensial.
2)      Konflik-konflik interpersonal
Aspek lain yang terdapat pada taraf interpersonal individu adalah seksualitas. Tetapi tidak seperti dalam psikoanalisa dalam analisis eksistensial seksualitas tidak dipermasalahkan.
3)      Konflik-konflik individu vs lingkungan
Eksistensial dan terapi analisis eksistensial menekankan bahwa dalam lingkungan untuk menjadi pribadi yang sehat atau otentik tidak berarti individu menjadi antisocial atau anti aturan, lebih berarti bahwa individu mengarahkan dirinya menjadi otonom.
4)      Konflik menuju pemenuhan diri
Individu mampu membuat makna hidup dan nilai-nilai maka individu bisa melaksanakan pemenuhan diri yang akan mengantarkan dirinya kepada tujuan hidup yang ideal, yang juga menjadi tujuan ideal terapi : keotentikan atau keberadaan yang otentik.
c.       Teori relasi terapeutik


Relasi diantara terapis dan pasiennya merupakan sumber proses perubahan sekalipun sumber isi terapeutik. Sebagai sumber proses perubahan artinya relasi terapeutik bisa menunjang proses perbaikan atau kesembuhan pasien, jika relasi terapeutik berwujud relasi aku-kamu dimana terapis memandang pasiesn sebagai subjek dan sebaliknya pasiesn siap tampil sebagai subjek yang terbuka terhadap terapis maupun terhadap dirinya sendiri, yang berarti dia bersedia meninggalkan ketidakjujuran atau mekanisme pertahanan.

0 komentar:

Posting Komentar